Banyak Anak Lulus Sekolah Tak Lanjut ke Jenjang Berikutnya, Ini Penyebabnya Menurut Disdik Katingan
Info Kasongan- Fenomena anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan setelah lulus dari jenjang sebelumnya kini menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan. Meski angka putus sekolah secara resmi tidak tinggi, data menunjukkan ada banyak anak yang berhenti belajar setelah lulus dari TK atau SD.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Katingan, Arianson, menjelaskan bahwa tingginya angka “anak tidak sekolah” di dalam data pemerintah sebenarnya merupakan gabungan dari berbagai kasus. Banyak di antaranya bukan putus sekolah murni, melainkan anak yang sudah lulus tetapi belum atau tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
“Kasus yang paling sering kami temui adalah anak yang lulus TK atau PAUD tidak melanjutkan ke SD, atau anak yang lulus SD tidak melanjutkan ke SMP. Ada juga anak yang pindah domisili ke kota lain seperti Sampit atau Banjarmasin, tetapi orang tuanya tidak melaporkan kepindahan atau mencabut berkas dari sekolah asal. Akibatnya, status mereka di sistem masih tercatat seolah tidak sekolah,” terang Arianson, Rabu (…).

Baca Juga : Scholes Kritik Arsenal: Gaya Arteta Disebut Mundur ke Era 2000-an
Data yang Tidak Sesuai Lapangan
Menurut Arianson, sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) kerap memunculkan angka yang tidak akurat. Ketika anak pindah sekolah atau pindah domisili tanpa administrasi yang benar, datanya tetap berada di sekolah lama. Ini membuat laporan resmi tampak lebih tinggi daripada kondisi sebenarnya.
“Orang tua kadang tidak melaporkan kepindahan anaknya. Mereka mendaftarkan anak di sekolah baru, tetapi tidak mencabut data dari sekolah lama. Hal ini membuat data di Dapodik terlihat seolah-olah anak tersebut tidak melanjutkan sekolah,” jelasnya lagi.
Meski begitu, Arianson tidak menutup mata bahwa ada anak-anak yang memang benar-benar berhenti sekolah setelah lulus. Angkanya memang lebih kecil dari data gabungan, tetapi tetap menjadi masalah yang harus diselesaikan.
Faktor Geografis dan Akses Sekolah
Dinas Pendidikan Katingan juga menyoroti faktor geografis sebagai penyebab utama anak tidak melanjutkan pendidikan. Banyak desa di Katingan memiliki SD, tetapi SMP hanya tersedia di tingkat kecamatan. Jarak yang jauh dan akses transportasi yang terbatas menjadi hambatan nyata bagi anak-anak di daerah terpencil.
“Jarak sekolah dari SD ke SMP itu sering kali jauh. Sementara SMP biasanya hanya ada di tingkat kecamatan. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi banyak anak di desa,” ungkap Arianson.
Selain faktor jarak, ada pula kendala ekonomi dan sosial, seperti keterbatasan biaya transportasi, kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan berkelanjutan, hingga budaya menikah muda yang masih terjadi di beberapa wilayah.
Upaya Disdik Katingan
Menanggapi masalah ini, Dinas Pendidikan Katingan berkomitmen bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, orang tua, hingga lembaga swadaya masyarakat, untuk mencari solusi yang efektif. Beberapa langkah yang sudah dirancang antara lain program sosialisasi pentingnya pendidikan berkelanjutan, penyediaan transportasi sekolah bagi daerah terpencil, dan pendataan ulang yang lebih akurat.
“Kami ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan mereka. Ini tugas bersama agar tidak ada lagi anak yang terkendala untuk sekolah,” tutup Arianson.
Dengan langkah-langkah ini, Disdik Katingan berharap angka anak yang tidak melanjutkan sekolah dapat ditekan, sehingga generasi muda di daerah ini bisa tumbuh lebih cerdas, sehat, dan siap menghadapi masa depan.















